3 Macam Teori Asam Basa dan Cara Menentukannya

oleh | Mar 2, 2023 | Kimia

Teori asam basa adalah salah satu konsep penting dalam kimia yang berkaitan dengan sifat-sifat zat-zat kimia. Teori ini menjelaskan bagaimana suatu zat dapat bertindak sebagai asam atau basa. Dalam artikel ini, akan dibahas 3 macam teori asam basa yang terkenal dan cara menentukannya.

3 Macam Teori Asam dan Basa

3 Macam Teori Asam dan Basa

Berikut adalah contoh 3 teori asam dan basa, diantaranya yaitu:

1. Teori Asam Basa Arrhenius

Teori asam basa Arrhenius dikemukakan oleh seorang ilmuwan Swedia bernama Svante Arrhenius pada tahun 1884. Menurut teori ini, asam adalah zat yang menghasilkan ion hidrogen (H+) ketika dilarutkan dalam air, sedangkan basa adalah zat yang menghasilkan ion hidroksida (OH-) ketika dilarutkan dalam air.

Contohnya, jika kita melarutkan asam klorida (HCl) dalam air, ia akan membentuk ion hidrogen dan ion klorida (Cl-):

HCl → H+ + Cl-

Sedangkan jika kita melarutkan natrium hidroksida (NaOH) dalam air, ia akan membentuk ion hidroksida dan ion natrium (Na+):

NaOH → Na+ + OH-

Cara menentukan apakah suatu zat bersifat asam atau basa menurut teori ini adalah dengan mengamati apakah zat tersebut menghasilkan ion hidrogen (H+) atau ion hidroksida (OH-) ketika dilarutkan dalam air.

2. Teori Asam Basa Bronsted-Lowry

Teori asam basa Bronsted-Lowry diperkenalkan oleh dua ilmuwan yaitu Bronsted dan Lowry pada tahun 1923. Menurut teori ini, asam adalah zat yang dapat melepas ion hidrogen (H+) dan basa adalah zat yang dapat menerima ion hidrogen (H+).

Contohnya, jika asam klorida (HCl) direaksikan dengan air, ia akan melepaskan ion hidrogen (H+):

HCl + H2O → H3O+ + Cl-

Dalam reaksi ini, air bertindak sebagai basa karena menerima ion hidrogen dari asam klorida:

H2O + H+ → H3O+

Cara menentukan apakah suatu zat bersifat asam atau basa menurut teori ini adalah dengan mengamati apakah zat tersebut dapat melepas atau menerima ion hidrogen (H+) dalam suatu reaksi.

3. Teori Asam Basa Lewis

Teori asam basa Lewis diperkenalkan oleh seorang ilmuwan Amerika bernama Gilbert Lewis pada tahun 1923. Menurut teori ini, asam adalah zat yang dapat menerima pasangan elektron dan basa adalah zat yang dapat menyumbangkan pasangan elektron.

Contohnya, dalam reaksi antara ion aluminium (Al3+) dengan molekul amonia (NH3), ion aluminium bertindak sebagai asam karena menerima pasangan elektron dari molekul amonia:

Al3+ + NH3 → Al(NH3)3

Dalam reaksi ini, molekul amonia bertindak sebagai basa karena menyumbangkan pasangan elektron ke ion aluminium:

NH3 + Al3+ → Al(NH3)3

Cara menentukan sifat asam atau basa

Asam dan Basa

Cara menentukan apakah suatu zat bersifat asam atau basa menurut teori ini adalah dengan mengamati apakah zat tersebut dapat menerima atau menyumbangkan pasangan elektron dalam suatu reaksi.

Setelah memahami ketiga teori asam basa tersebut, bagaimana cara menentukan sifat asam atau basa dari suatu zat dalam prakteknya? Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diikuti:

  1. Amati apakah zat tersebut dapat menghasilkan ion hidrogen (H+) atau ion hidroksida (OH-) ketika dilarutkan dalam air. Jika ia menghasilkan ion H+, maka zat tersebut bersifat asam. Jika ia menghasilkan ion OH-, maka zat tersebut bersifat basa. Contoh asam adalah asam klorida (HCl) dan contoh basa adalah natrium hidroksida (NaOH).
  2. Amati apakah zat tersebut dapat melepas atau menerima ion hidrogen (H+) dalam suatu reaksi. Jika ia dapat melepas ion H+, maka zat tersebut bersifat asam. Jika ia dapat menerima ion H+, maka zat tersebut bersifat basa. Contoh asam adalah asam sulfat (H2SO4) dan contoh basa adalah amonia (NH3).
  3. Amati apakah zat tersebut dapat menerima atau menyumbangkan pasangan elektron dalam suatu reaksi. Jika ia dapat menerima pasangan elektron, maka zat tersebut bersifat asam. Jika ia dapat menyumbangkan pasangan elektron, maka zat tersebut bersifat basa. Contoh asam adalah ion aluminium (Al3+) dan contoh basa adalah molekul air (H2O).

Dalam prakteknya, pengukuran pH dapat digunakan untuk menentukan sifat asam atau basa suatu zat secara kuantitatif. pH adalah skala pengukuran yang menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan. pH 7 menunjukkan bahwa larutan bersifat netral, pH kurang dari 7 menunjukkan bahwa larutan bersifat asam, dan pH lebih dari 7 menunjukkan bahwa larutan bersifat basa.

Kesimpulan

Dalam kesimpulannya, teori asam basa adalah konsep penting dalam kimia yang menjelaskan sifat-sifat zat-zat kimia. Terdapat tiga macam teori asam basa yang terkenal yaitu teori Arrhenius, Bronsted-Lowry, dan Lewis. Cara menentukan sifat asam atau basa suatu zat dapat dilakukan dengan mengamati apakah zat tersebut dapat menghasilkan ion hidrogen (H+) atau ion hidroksida (OH-) ketika dilarutkan dalam air, dapat melepas atau menerima ion hidrogen (H+) dalam suatu reaksi, atau dapat menerima atau menyumbangkan pasangan elektron dalam suatu reaksi.

Bagikan ini ke:
Tag: Asam | Basa
<a href="https://bloglab.id/author/bloglab/" target="_self">Erwin Widianto</a>

Erwin Widianto

Content Creator

Saya adalah seorang Content Creator dan SEO Spesialist yang berasal dari Jawa Barat, Indonesia yang memulai karir di bidang Digital Marketing sejak tahun 2017 hingga sekarang.

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×